Tanggapan Terhadap Menjamurnya Tawaran Kerjasama Perusahaan Besar Kepada UKM

Sejak UUD 45 pasal 33 diamandemen. Konsep dan praktek membangun UKM sudah banyak berubah. Posisi yang awalnya mall dan pengusaha grosir besar membutuhkan produsen kecil dan menengah dengan *membeli*, menjadi produsen kecil dan menengah *memasok* ke mall mall dan toko toko besar termasuk industri pariwisata dengan sistem konsinyasi. Akibatnya ukm butuh modal lebih besar lagi. Lalu datanglah program kredit dan cicilan dengan agunan dan bunga (walau terkesan lunak) dari berbagai lembaga keuangan kepada jutaan ukm.Cara agunan dan cicilan ini tidak menolong ketika kredit macet. Dan si manajemen mall mall dan industri marketplace tidak punya urusan. Konsinyasi *tdk seimbang* tetap berjalan. Seleksi kualifikasi ketat, tuntutan daya tahan produk (bila food and drink) dan tempo pembayaran yg semakin lama 3-6 bulan. Itu sebab ukm banyak gulung tikar setelah bekerjasama dg perusahaan besar. Model Jimbaran harapan mantan presiden Soeharto tinggal kenangan.

Ironisnya ada perusahaan grosir dan hypermart justru menjual juga produk persis ukm eksport dengan harga jauh lebih murah. Atau bahkan melakukan terobosan dg anak perusahaan nya utk menduplikasi produk ukm dengan label nya. Tanpa sertifikasi dg harga murah juga.

Lalu posisi ukm bagaimana?

2 tahun pengurus ISMEA melakukan riset secara pengalaman langsung maupun berdasarkan pengalaman orang lain. Berbagai upaya sedang dilakukan supaya anggota ISMEA tidak masuk dalam pusaran ekonomi yang tidak menguntungkan ukm.

Dibutuhkan kekompakan, satu visi dan misi, agar tetap bisa berkolabirasi dengan lembaga pemerintah terkait dan lembaga swasta lainnya. Bagaimanapun ukm adalah bagian dari perekonomian Indonesia. Ujung tombak kesejahteraan rakyat.

Ketum ISMEA

ismea.net

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*